Member Area
Home
Renungan Ramadan XXVI: JATAH BERIMAN KUAT Cetak E-mail
Ditulis Oleh Mujib Syadzili   

Oleh : Gus Zulfan Syahansyah

(PP Al-Munawariyah Sudimoro Bululawang Malang)

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang menyaksikan kemungkaran, maka ia wajib mencegahnya dengan tangan; jika tidak bisa, maka dengan lisan; jika tak bisa juga, cukuplah dengan hati; dan cara pengingkaran ketiga ini termasuk selemah-lemahnya keimanan.

Secara harfiah, hadis ini menjelaskan kewajiban setiap muslim untuk mencegah kemungkaran yang disaksikannya, berikut keterangan klasifikasi keimanan seseorang. Karena keshahehannya, hampir setiap orang yang belajar agama Islam dipastikan pernah mempelajari hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abi Said al-Hudri ini. Itulah sebabnya hadis ini cukup masyhur.

Selain menjadi landasan kewajiban mencegah kemungkaran, dari makna hadis di atas, terkandung klasifikasi keimanan seseorang. Sesuai alternatif cara yang dipakai untuk mencegah kemungkaran --dengan tangan, lisan dan hati--keimanan seorang muslim bisa terkatagori: kuat, lemah, bahkan sangat lemah. Dengan klasifikasi keimanan ini, tersisa beberapa permasalahan untuk mengkaji ulang tafsiran hadis dimaksud.

Satu permasalah yang penulis anggap cukup mendasar adalah, tingkat keimanan dalam hadis tersebut seolah menjadi taqdir yang karenanya tidak semua muslim bisa berupaya menjadi mukmin yang kuat. Untuk mengartikan makna ‘tangan’ dalam hadis di atas, selain arti aslinya sebagai kekuatan fisik, ia juga dikonotasikan dengan kekuasaan. Pada titik ini kita tahu, tidak semua orang memiliki ‘tangan’ seperti dimaksud. Karenanya, hanya mereka yang kuat secara fisik dan memiliki kekuasaanlah yang berpeluang menjadi mukmin yang kuat. Tanpa keduanya, jelas kebagian dua katagori keimanan lainnya: lemah dan sangat lemah.

Bisa jadi, karena ingin tergolong sebagai ‘mukmin sejati’, banyak muslim yang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Dengan motifasi beriman kuat, meski tak memiliki “tangan”, mereka tetap berupaya mendapatkan predikat yang didambakan. Bom bunuh diri atau upaya terror seperti yang dilakukan Noordin M. Top cs, menjadi contoh alternatif yang mungkin bisa dilakukan. Walhasil, bisa kita saksikan dampaknya belakangan ini.

Lalu, bagaimana seharusnya kita memahami kandungan hadis di atas? Benarkah penyebutan cara pencegahan kemungkaran dalam hadis tersebut, sekaligus menjadi klasifikasi keimanan seseorang, tanpa terlebih dulu menilik keberadaan sang muslim?

Tiga cara pencegahan kemungkaran ini, hanya penegasan tipologi masyarakat saja. Penulis melihat, bukan lantas orang yang lemah, baik fisik, harta dan kekuasaan, hingga tak berdaya mencegah kemungkaran dengan ‘tangan’ dan ‘lisan’, serta merta termasuk selemah-lemah iman. Sama sekali bukan. Semua orang tak ingin lemah. Predikat selemah-lemah iman hanya bagi dua kelompok masyarakat muslim pertama dan kedua dalam hadis tersebut. Lalu, siapa saja sebenarnya dua kelompok tersebut?

Kelompok pertama adalah umara atau pemerintah. Dengan kekuasaan yang dimiliki, kelompok ini dikatagorikan beriman kuat jika telah menggunakan ‘tanga’nya untuk merubah kemungkaran. Tidak sekedar dengan ‘lisan’ atau bahkan ‘hati’ saja. Kedua cara terakhir tidak cukup bagi pemerintah dalam upaya memberantas kemungkaran yang disaksikannya.

Kedua, golongan yang hanya memiliki “lisan”. Penulis cendrung mengartikan kata ‘lisan’ dengan pengetahuan dan kemampuan untuk berdakwah. Kalau yang pertama adalah pemerintah, maka kelompok kedua ini bisa kita sebut para agamawan: ulama, cendikiawan dan para guru. Mereka akan berpredikat mukmin yang kuat jika telah berseru atau berda’wah untuk mencegah kemungkaran yang dilihatnya. Ya, hanya sebatas nasehat dan dakwah yang bisa dilakukan kelompok ini. Selebihnya, justru keliru jika kekerasan, teror atau bom bunuh diri dijadikan alat mencegah kemungkaran. Karena memang mereka tak memiliki hak untuk itu.

Pastinya, bukan termasuk ‘mukmin sejati’, mereka yang meneror atau melakukan bom bunuh diri untuk mencegah kemungkaran, karena mereka tak berwenang melakukannya. Justru kekejian yang mereka lakukan untuk mencegah kekejian. Mereka bahkan termasuk kelompok yang beriman lemah: tak mampu menahan nafsu untuk tidak melakukan pekerjaan yang bukan haknya. Dalam kaidah fiqih dikatakan, asy-syarru laa yudi’u bi al-syarri, kejahatan tidak boleh di tanggulangi dengan kejahatan juga.

Waba’du, adapun kelompok muslim yang memang tidak memiliki kekuasaan juga bukan orang yang berilmu, maka jelas tak ada tuntutan optimalisasi keimanan mereka dengan berusaha mencegah kemungkaran menggunakan “tangan” dan “lisan”. Sebagaimana alasan di atas, kelompok ini memang tak ada daya dan upaya melakukan semua itu. Karenanya, meski hanya dengan hati, klasifikasi keimanan kelompok ini tetap bukan termasuk mukmin yang lemah. Wallahu a’lam bissawab.
 
< Sebelumnya
Headline
  • Pause
  • Previous
  • Next
1/10
Rukyatul Hilal Rabu Petang, Idul Adha Berpotensi Beda
Rabu, 24/09/2014 15:50
Rukyatul Hilal Rabu Petang, Idul Adha Berpotensi Beda

Jakarta, NU Online
Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama menyelenggarakan rukyatul hilal atau observasi bulan sabit di sejumlah titik strategis di Indonesia untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah 1435 H pada Rabu (24/9) petang bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah.

Selengkapnya...
 
Warta
IPNU Kab Malang Bina Masyarakat Selektif Informasi
Malang, numalangonline, Dalam rangka meningkatkan pelayanannya kepada Masyarakat dan juga untuk membantu suksesnya program pemerintah, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Malang menjalin kerja sama bersama Kementerian Komunikasi dan Infromatika (keminfo). Kerja sama ini berkaitan hal pelayanan informasi dan komunikasi antara Pemerintah dan Masyarakat. Dalam hal ini para aktifis IPNU-IPPNU diharapkan menjadi jembatan penghubung timbal balik antara Pemerintah dan masyarakat.
UBUDIYAH
Tentang Bacaan Syai'un lillahi, Alfatihah
Dalam setiap acara tahlilan, dhiba’an dan barzanji seringkali kita jumpai seorang yang berlaku sebagai pemimpin berkata شيء لله الفاتحة. Entah kalimat itu disebutkan sebelum membaca al-Fatihah sebagai agenda pembukaan atau dibacakan setelah menyebutkan rentetan nama arwah yang akan do’akan.
 
OPINI
Menjaga Kearifan Lokal Untuk Kembangkan Islam Rahmatal Lil ‘Alamin
 
Oleh: Nasron Aziz
(Pendidik MTs Nahdlatul Ulama Kepuharjo Karangploso Malang)
 
Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup. Kearifan lokal identik dengan budaya yang berkembang di suatu daerah tertentu, entah itu sesuai dengan agama atau tidak. 
Kearifan lokal dan agama adalah sesuatu yang tidak berhubungan sama sekali. Karena agama adalah ciptaan Tuhan dan bersifat selamanya. Sedangkan budaya adalah hasil karya manusia sendiri dan akan berubah ubah sesuai zaman dan tempat. Budaya sering menjadi jurang pembeda antara satu suku dengan suku yang lain karena setiap daerah mempunyai kebiasaan yang tidak dimiliki daerah lain. Ini berbeda dengan agama karena agama akan selalu sesuai dengan keadaan apapun dan kapanpun.
LEMBAGA PENDIDIKAN MAARIF
MTs dan MA NU Dukung Indonesia Anti Narkoba 2015 Karangploso-Malang, berita9online
Kamis 3 Oktober 2013, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama mengadakan kegiatan penyuluhan anti Narkoba. Acara terselenggara atas kerja sama antara pihak MTs NU dan MA NU dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang. Bertempat di Aula Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah Kepuharjo Karangploso Malang.
 
RABITHAH MA’AHID ISLAMIYAH
REKOMENDASI : Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi

13/03/2010

Hotel Majapahit, Surabaya, 5-7 Maret 2010

Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi dibuka oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH Ahmad Hasan Mutawakkil Alalloh, SH, MM dengan Pembicara kunci Ketua PBNU, KH DR A. Hasym Muzadi yang memberikan arahan bagi peserta. Pengarahan juga disampaikan oleh Prof DR. Ir. Mohammad Nuh, DEA, Menteri Pendidikan Nasional. Peserta lokakarya berjumlah 60 peserta berasal dari 22 Rumah sakit dan institusi pendidikan kesehatan di lingkungan NU di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta Pengurus PWNU Jawa Timur dan Pengurus Pusat LPK-NU. Peserta Rumah Sakit terdiri dari para direktur rumah sakit dan ketua yayasan dan pengurus yayasan.

LKK NU
Memprioritaskan Kesehatan di Lingkungan Nahdlatul Ulama Bagi umat Muhammad SAW ada tiga hal pokok yang sangat penting dalam hidup di dunia ini yaitu Al Amna (keamanan), al-shihhata (kesehatan), al-kifayah (kesejahteraan). Tiga hal ini satu dengan lainnya memiliki korelasi yang sangat terkait. Kondisi daerah yang aman akan mudah mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Dan kondisi masyarakat yang sehat akan berimplikasi dalam membangun masyarakat yang aman dan sejahtera. Begitu pula ...
 
LTMI
KHUTBAH IDUL ADHA Meneladani Perjuangan Nabi Ibrahim

Oleh KH. Musthafa Kamaluddin, MA

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3
 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
 اللهُ اَكْبَرْ ماتحرك متحرك وارتـج. ولبى محرم وعـج. وقصد الحرم من كل فـج. وأقيمت فى هذا الأيام مناسك الحج.
 اللهُ اَكْبَرْ (3×)   
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع دين محمد. وسلم تسليما كثيرا. فياايها المسلمون الكرام. اوصيكم ونفسى بتقوى الله. واعلموا أن هذا الشهر شهر عظيم. وأن هذاليوم يوم عيد المؤمين. يوم خليل الله إبراهيم أبو ألانبياء والمرسلين. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

HIKMAH
Cerita Tentang Jamaah Tahlil di Kampung Kami (2-Habis)  Kami jadi tersadar dengan ingatan ini. Kami mendengar bahwa jamaah tahlil di kampung kami ini meskipun luarnya seperti ada persaingan, tapi hikmahnya juga ada. Karena orang-orang yang selama ini menurut masyarakat ‘mbeling’ (malas) untuk tahlilam jadi sungkan kalu tidak hadir. Karena mereka kira kalau tidak hadir takut ketahuan karena jamaahnya makin sedikit. Sebelumnya, banyak diantara masyarakat yang enggan hadir karena malas. Mungkin dengan alasan iseng karena merasa ‘tidak akan ketahuan.’ ‘Jamaahnya banyak sekali, satu orang tidak hadir kan tidak apa-apa, dimaafkan.’ Begitu mungkin jalan pikirannya.
 
ANALISA BERITA
Merefleksikan Demokrasi Senin, 11/07/2011 15:10

 

Sebagai sarana untuk mengatur kehidupan bersama, demokrasi bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan sangat terkait dengan sistem budaya, tradisi, hukum dan norama yang ada di masyarakatnya. Kehadiran demokrasi di Indonesia ini diharapkan mamapu menjamin ketertiban kehidaupan, menjamin kesetaraan, menciptakan keadalian dan kesejahteraan.

Nemun demikian perlu diingat, demokrasi sebagai alat, bisa digunakan oleh siapa saja sesuai dengan kehendak rezim yang berkuasa. 

MWC
MWCNU Kecamatan Pujon Laksanakan Konferensi Pujon, Malang
Sabtu, 29 Juni 2013, Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pujon mengadakan Konferensi. Dalam konferensi yang dihadiri oleh 10 (sepuluh) ranting itu, terpilih Kyai Imron sebagai Rais Syuriyah, yang menggantikan pejabat sebelumnya: Kyai Jamaludin yang mengungrukan diri karena merasa sudah uzur. Sedangkan Ketua Tanfidziyah terpilih kembali pejabat lama: Bapak Drs. Hariono secara aklamasi.
 
LAJNAH
Unisma Selenggarakan Wisuda ke-50
Dinoyo, Kota Malang-numalangonline, Sabtu, tanggal 26 /10/2013 kemarin, Universitas Islam Malang menyelenggarakan wisuda mahasiswa untuk ke-50 kalinya. Dalam wisuda kali ini ada sekitar 1.460 Mahasiswa yang diwisuda. Yang terdiri dari Mahasiswa S-1 dan Pascasarjana dari semua jurusan yang ada di lembaga pendidikan itu.
BADAN OTONOM
Jangan jadi orang NU yang brengsek
Malang, numalangonline
Sebagaimana telah diingatkan dan dipesankan oleh Rais Aam bahwa jangan sampai NU dibawa-bawa ke dalam ranah politik praktis atau disebut juga Politik Kekuasaan yang dinilai sebagai politik rendahan. Karena sejatinya yang diharapkan dari peran politik NU adalah politik tingkat tinggi yang meliputi politik kebangsaan, Politik kerakyatan dan etika politik.
Menjelang pemilu 2014 ini, peluang akan diombang-ambingkannya NU ke dalam politik praktis sangatlah besar. Dan Al-Hamdulillah, bagaikan gayung bersambut, semangat untuk tetap menjaga NU dari terombang-ambing oleh politik kekuasaan ternyata juga kuat berdengung dari kader-kader NU yang ada di daerah. Salah satunya adalah Badrus Salam, salah seorang wakil Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Propinsi Jawa Timur, yang juga pernah menjadi ketua ISNU Kabupaten Malang. Hal itu diungkapkannya saat diwawancarai numalangonline pada Kamis, 24/10/2013 lalu.
 
TOKOH
KH Achmad Siddiq (1926-1991)

 Pelopor Khittah '26

Lahir di Jember, putra Kiai Siddiq, dan adik Kiai Machfoedz Siddiq (yang memegang berbagai jabatan penting di NU dan menjadi Ketua Umum sejak tahun 1937 s.d 1942). Pernah menjadi sekretaris pribadi Wahid Hasjim saat yang terakhir ini menjadi Menteri Agama (1949-1952).

 
Advertisement

Foto Kegiatan

Kalender

« < November 2014 > »
S M T W T F S
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 1 2 3 4 5 6