Lokasi : Home Warta Nasional Model Pendidikan Indonesia Tak Perlu Impor, Belajarlah ke Pesantren

PC NU Kab. Malang

Model Pendidikan Indonesia Tak Perlu Impor, Belajarlah ke Pesantren

Email Cetak PDF

Jombang, Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini selalu berkunjung mana kala mendengar ada sekolah atau madrasah unggul. Tidak semata di tanah air, juga hingga ke mancanegara. Menurut penemuan dia, justru keunggulan pesantren tidak tertandingi. "Hampir seluruh negara telah saya datangi," kata KH Imam Suprayogo, Sabtu (5/11). Mantan Rektor UIN Maliki Malang tersebut menjelaskan, di sejumlah negara di benua Eropa, Australia, Amerika, juga Asia telah dikunjungi. "Termasuk di Timur Tengah dan Rusia," ungkapnya pada acara Aktualisasi Resolusi Jihad di Pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur.
Setelah sejumlah sekolah yang menyatakan dirinya sebagai institusi unggul tersebut dikunjungi, termasuk di tanah air, ternyata yang paling menjanjikan adalah pesantren. "Buat apa kita impor model pendidikan dari luar negeri, justru pesantren merupakan lembaga terbaik," kata Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asy'ari (Unhasy) Jombang tersebut.
Imam Suprayogo yang tampil pada sesi pertama kegiatan Aktualisasi Resolusi Jihad tersebut, kemudian menjelaskan kelebihan tempaan di pesantren. "Karena di pesantrenlah baik hati, pikiran dan keterampilan santri diasah," ungkapnya. Sehingga manusia terbaik sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an yakni ulul albab semuanya dimiliki para santri, lanjutnya.
Dengan kelebihan yang dimiliki pesantren tersebut, maka tidak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk belajar ke luar negeri. "Apalagi sampai mengimpor model pembelajaran dari sana," sergahnya. Bahkan di UIN Maliki misalnya, justru banyak mahasiswa dari luar negeri yang sekarang menimba ilmu. "Hingga kini sudah ada 32 negara yang belajar di UIN Maliki," tandasnya.
Yang juga sangat mendesak dilakukan saat ini adalah melahirkan generasi muda, khususnya pelajar yang berakhlak. "Kalau akhlaknya jelek, maka hal tersebut jauh lebih mengganggu," pesannya pada kegiatan yang berlangsung di aula Pesantren Tebuireng tersebut.
Di hadapan para ulama, kiai, habaib, juga profesional, Imam Suprayogo sangat prihatin dengan kian menipisnya kejujuran yang ada di berbagai jenjang pendidikan. "Kalau dilakukan penelitian, lembaga pendidikan paling jujur adalah di tingkat Taman Kanak-kanak serta Pendidikan Usia Dini atau PAUD," ungkapnya. Saat memasuki kelas akhir  di SD atau MI, demikian pula tingkat menengah pertama dan atas, nilai kejujuran semakin jauh. "Bahkan mereka yang studi S1 hingga S3 justru semakin tidak jujur lantaran gemar copy paste," keluhnya.
Oleh sebab itu, dengan kembali menggali pendidikan di pesantren, diharapkan bangsa Indonesia menemukan jati dirinya sebagai bangsa. "Siapa pun yang memiliki sifat seperti yang ada pada Nabi Muhammad SAW yakni siddiq, amanah, tabligh, fathonah, maka akan menjadi bangsa yang unggul," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)