Cerita Tentang Jamaah Tahlil di Kampung Kami (1)

Ini adalah sebuah cerita yang saya kira mengandung hikmah. Begini, kira-kira sudah sejak tahun 2004 lalu, jamaah tahlil di kampung kami Kampung Boto Lor Desa Banjarsari Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang terpecah. Jadi kalau dihitung sudah sekitar 9 (sembilan) tahunan. Pada awalnya jamaah tahlil ini menggabungkan sekitar 2 (dua) RT, dalam sebuah jamaah tahlil, yaitu RT. 02 dan RT. 03, di wilayah RW. 03 Desa Banjarsari. Lalu kira-kira pada tahun 2004 jamaah tahlil itu terpecah menjadi 3 (kelompok).

var vglnk = { api_url: ‘//api.viglink.com/api’, key: ‘a187ca0f52aa99eb8b5c172d5d93c05b’ };

Kelompok pertama adalah kelompok RT. 02 yang disini tahlilannya sekarang dipimpin bapak Imamuddin dan ketua RT sendiri. Sedangkan jamaah di RT. 03 terpecah menjadi dua jamaah yang masing-masing dipimpin oleh Bapak Dul (nama samaran) dan Bapak sapawi (nama samaran juga). Pada awalnya, pangkal permasalahan antara dua tokoh tersebut (Pak Dul dan Pak Sapawi) adalah masalah kesalah pahaman mengenai bantuan dari seseorang yang tidak disebut namanya. Yang mana bantuan tersebut diperuntukkan bagi pembangunan mushollah di Rukun Tetangga tersebut dengan akad sebagai waqaf.
Takmir mushallah RT. 03 itu adalah pak dul. Tapi lokasinya berada di depan rumah pak sapawi. Entah dengan pertimbangan apa, si pemberi sumbangan ternyata menitipkan dana tersebut kepada pak sapawi. Dan entah dengan pertimbangan apa pula, ternyata pak sapawi langsung membeli paving dengan dana itu untuk dipasang di halaman mushalla dan jalan kampung menuju mushalla itu. Katanya tanah jalan kampung menuju mushalla tersebut juga sudah diwakafkan untuk kepentingan mushalla juga oleh yang punya.
Merasa tidak dikonfirmasi terlebih dahulu sebagai takmir, tentu saja pak dul tidak menerima dirinya di sabotase. Dan setelah terjadi perdebatan, maka dirinya memutuskan untuk mendirikan mushalla sendiri, dan melepaskan jabatannya sebagai takmir mushalla yang lama.
Masyarakatpun terbagi, ada yang mendukung pak dul, dengan alasan memang seharusnya takmir dikonfirmasi dahulu kalau ada apa-apa. Dan ada pula yang mendukung pak sapawi dengan alasan bahwa pak dul terlalu menonjolkan gengsinya dalam masalah ini bukan moral yang di dahulukan. Di RT. 02, jamaah tahlil yang dipimpin oleh pak Mudin sendiri, merasa tidak ingin dianggap memihak salah satu, sehingga mendirikan jamaah sendiri. Yah Wallahu A’lam bish Shawab. Saya tidak mau ikut campur. Wa maa jara baina shahabati naskutu anhu. Wa ajrul ijtihadi yutsbatu.
Singkat cerita, sejak saat itulah jamaah tahlil di kampung kami terpecah belah menjadi tiga. Akan tetapi, saya langsung teringat sesuatu mendengar cerita itu. Pernah salah seorang kiai pengurus Idaroh Jatman di Kecamatan kami memberi nasihat kepada kami.
“Kita ini kalau melakukan kebaikan sekecil apapun, yang penting niatnya baik lillahi ta’ala, pasti ada hikmahnya.” Katanya dalam kenangan kami.
“Saya sering menghadiri acara anak IPNU-IPPNU. Acara mereka biasanya kan campur antara anak laki-laki dan perempuan. Tapi Al-Hamdulillah, saya tidak pernah melihat atau mendengar dalam kegiatan mereka ada masalah yang menyangkut pemuda laki-laki dan perempuan.” Jelasnya.
“Semua itu adalah hikmah, karena mereka sudah niat untuk mengikuti perjuangan para Ulama terdahulu dengan masuk organisasi IPNU-IPPNU. Untuk mengembangkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.” Terangnya. (Bersambung). (Kholis)
Foto: Jamaah Tahlilan; Ilustrasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *