Cerita Tentang Jamaah Tahlil di Kampung Kami (2-Habis)

Kami jadi tersadar dengan ingatan ini. Kami mendengar bahwa jamaah tahlil di kampung kami ini meskipun luarnya seperti ada persaingan, tapi hikmahnya juga ada. Karena orang-orang yang selama ini menurut masyarakat ‘mbeling’ (malas) untuk tahlilam jadi sungkan kalu tidak hadir. Karena mereka kira kalau tidak hadir takut ketahuan karena jamaahnya makin sedikit. Sebelumnya, banyak diantara masyarakat yang enggan hadir karena malas. Mungkin dengan alasan iseng karena merasa ‘tidak akan ketahuan.’ ‘Jamaahnya banyak sekali, satu orang tidak hadir kan tidak apa-apa, dimaafkan.’ Begitu mungkin jalan pikirannya.

Juga ada yang beralasan tempatnya kejauhan. Mereka malas untuk menempuh jarak yang agak jauh jika kebetulan tahlilannya giliran orang yang jauh dari rumahnya. Mungkin karena alasan lelah habis dari sawah.  Tapi sekarang tidak lagi. Saya melihat mreka jadi rajin.

“Al-Hamdulillah, hikmah dari semua ini, dakwah makin sukses. Karena mereka yang dulunya malas tahlilan sekarag tidak. Berarti kan dakwah bisa lebih terbantu.” Kata Pak Kaji Mukamad, Ketua RT 03 suatu ketika saat saya bertamu ke rumahnya.

Anak-anak kecilpun diajak untuk meramaikan dan hitung-hitung juga untuk membiasakan. Sesekali shahibul hajah meminta untuk diisi sedikit pengajian sebagai mau’idzah hasanah.

Yang lebih menggembirakan, bahwa upaya untuk merukunkan kedua belah pihak yang bertikai (Ishlahu dzatil bain) juga dilakukan oleh masyarakat. Meskipun mereka tidak mengetahui apa maksud Ishlahu dzatil bain itu. Seperti dengan mengundang Pak Dul dan Pak Sapawi dalam sebuah kegiatan keagamaan desa, seperti Pengajian NU atau acara lainnya. Dan menyediakan dua tempat duduk yang berdekatan untuk keduanya. Kemudian, keduanya bisa bertegur sapa meskipun dengan satu atau dua kalimat. Atau juga bisa berbagi rokok bersama.

Al-Hamdulillah saya sangat bersyukur sekali. Ternyata tanpa negara Islam pun, di kampung saya Syi’ar dan Dakwah Islammakin semarak. Kesadaran akan ajaran Islam semakin meningkat. Budaya saling menghormati sangat tinggi. Setidaknya jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang saling menghina sesama Islam dengan mengatas namakan agama yang luhur ini.

Ternyata betul kata Kiai Thariqah itu. Ikut para Ulama (NU) itu memang penuh dengan hikmah. (kholis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *