Ramadhan, Saatnya Puasa Penggunaan Plastik

Ramadhan tidak hanya tentang menahan lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam. Selain ibadah, Ramadhan juga tentang melatih kebiasaan baik yang dapat dibentuk seperti mengurangi penggunaan sampah plastik yang berakibat munculnya masalah pada lingkungan.

Direktur Bank Sampah Nusantara (BSN) LPBINU Fitria Aryani mengatakan, hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 yang merekomendasikan untuk mendorong kepada pemerintah tentang program pengurangan sampah plastik.

Hal ini tidak akan berfungsi apabila tidak membantunya melalui wujud tindakan nyata dan perubahan perilaku, terutama dalam penggunaan plastik sekali pakai.

“Bagi kita umat Muslim, menjaga kebersihan diri dan lingkungan itu penting. Bahkan disebut sebagai bagian dari iman. Allah itu indah dan menyukai keindahan,” kata Fitri, Selasa (14/5).

Di bulan Ramadhan ini, setiap perbuatan baik dihitung sebagai sedekah. Dan momen yang tepat untuk mengubah perilaku untuk menjaga kebersihan dengan mengurangi penggunaan plastik yang sampahnya tidak bisa terurai secara alami adalah perbuatan baik.

Fitri mengatakan ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menerapkan gaya hidup tanpa sampah di bulan Ramadhan.

Pertama, mendisplinkan diri dengan membawa wadah dari rumah ketika membeli kebutuhan berbuka puasa. Memang bukan hal yang mudah untuk beralih ke wadah selain plastik. Namun jika kita bisa memulai dari diri sendiri tentunya perlahan kita akan terbiasa melakukan hal yang baik tersebut.

Kedua, hindari menggunakan botol plastik sekali pakai dengan menggalakkan gerakan membawa wadah minuman dan makanan tanpa kantong plastik, hal tersebut bisa dilakukan bagi masyarakat perkantoran.

Fitri mengatakan hal tersebut juga akan jauh lebih efektif jika kepala pimpinannya untuk mengimbau secara khusus terhadap jajarannya, agar jangan menggunakan kemasan botol minum plastik sekali pakai ataupun sedotan plastik. Semua termasuk warung makan di lingkungan.

Ketiga, kurangi perilaku konsumtif. Selama bulan ramadhan ini peningkatan jumlah sampah dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, jangan membeli makanan melebihi kebutuhan.

“LPBINU sudah mengambil langkah cepat dengan menyampaikan imbauan larangan kepada seluruh pengurus khususnya di kantor LPBINU untuk tidak menggunakan kemasan air minum, atau makanan berbahan plastik sekali pakai,” papar Fitri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *