Siapakah awal mula yang menulis harkat dalam Al-Qur’an ?

Ketika kumpulkan pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a, dari tulisan yang terdapat di lembaran-;embaran daun dan pelepah kurma juga pada batu-batu dan tulang, Al-Qur’an masih ditulis dengan memakai khat khufi, khat yang dinilai asli berasal dari bangsa Arab, dan merupakan masyhur dipakai pada masa itu. Itupun masih polos, tanpa dihiasi tanda sedikitpun baik titik maupun harokat.
Ketika penyebaran Islam semakin meluas, dan tersebar ke berbagai daerah, banyak kalangan dan bangsa lain yang telah masuk menjadi pemeluk agama Islam. Dialek dan bahasapun menjadi semakin berfariasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa akhirnya terdapat berbagai kekeliruan membaca Al-Qur’an oleh masyarakat yang semakin heterogen tersebut.
Akhirnya, pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (40-60 H), Abu Al-Aswad Ad-Du’ali pujangga yang kemudian mencetuskan Ilmu Nahwu memprakarsai pemberian tanda-tanda pada tulisan Al-Qur’an yang disebut dengan ‘harakat’. Akan tetapi harakat yang dibubuhkannya tidaklah sama dengan harakat yang kita kenal saat ini. Harakat “fathah” yang menunjukkan vokal ‘a’, ditandai dengan titik merah satu di atas huruf. “Dlammah” yang menunjukkan vokal ‘i’ dituliskan dengan titik yang berada di depan huruf. “Kasrah” ditulis dengan titik yang terletak di bawah. Dan “Tasydid” ditandai dengan titik dua yang berada di atas huruf.
Pada sekitar tahun 65-86 H, Khalifah Abdul Malik bin Marwan atas saran dari Hajjaj Ibn Yusuf, yang juga seorang sastrawan dan pujangga yang akhirnya menjadi panglima Perang Khalifah Abdul Malik mulai memperikan titik-titik pada huruf untuk membedakan huruf yang bentuknya sama atau hampir sama. Seperti huruf “Fa’” ditandai dengan titik satu diatas. “Qaf” ditandai dengan titik dua di atas, “Jim” titik satu di bawah, “Ha’” tanpa titik, “Kha’” titik satu di atas dan sebagainya.
Namun demikian, tanda-tanda yang sudah ada tersebut ternyata masih dinilai kurang efektif untuk meminimalisir kesalahan membaca. Terutama sekali masalah bacaan panjang dan pendeknya (mad). Maka, pada Tahun 162 H, Imam Khalil bin Ahmad yang tinggal di Bashrah memberikan tanda yang lebih jelas. Ia memperbaharui tanda-tanda harokat yang dibubuhkan oleh Abul Aswad. Dan hasilnya adalah tanda-tanda harokat sebagaimana yang kita kenal sampai sekarang ini.
Sedangkan mengenai perubahan Khat (model tulisan) atau juga disebut dengan font Al-Qur’an, itu terjadi pada masa Washil ibnu Maqlah (272 H), seorang menteri Dinasti Abbasyiyah. Ialah yang menulis Al-Qur’an dengan berbagai macam khat, termasuk kaht A-Qur’an yang kita pakai.
Pembagaian Al-Qur’an menjadi 30 (tiga puluh) juz dilakukan oleh Hajjaj bin Yusuf juga. Dan Ia pula yang memberikan tanda ‘nisf’ (separuh) dan ‘rubu’ (seperempat) dalam mushaf Al-Qur’an. (Kholis/dbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *